Pages

Senin, 08 September 2014

dari Ibnu Taimiyah

[1] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah letak kebaikan seorang insan itu ketika dia telah mengetahui kebenaran tanpa dibarengi kecintaan kepadanya, keinginan, dan kesetiaan untuk mengikutinya. Sebagaimana kebahagiaannya tidaklah terletak pada keadaan dirinya yang telah mengenal Allah dan mengakui apa-apa yang menjadi hak-Nya [ibadah] apabila dia tidak mencintai Allah, beribadah, dan taat kepada-Nya. Bahkan, orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat kelak adalah orang yang berilmu namun tidak beramal dengannya. Dan telah dimaklumi bahwa hakikat iman adalah pengakuan/ikrar, bukan semata-mata pembenaran/tashdiq. Di dalam ikrar/pengakuan itu telah terkandung; ucapan hati [qaul qalbi] yaitu adalah berupa tashdiq/pembenaran, dan juga amalan hati ['amalul qalbi] yaitu berupa inqiyad/kepatuhan.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, oleh Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 92)
[2] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Risalah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi hamba. Mereka benar-benar membutuhkannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh di atas segala jenis kebutuhan. Risalah adalah ruh, cahaya, dan kehidupan alam semesta. Maka kebaikan seperti apa yang ada pada alam tanpa ruh, tanpa cahaya, dan tanpa kehidupan?” (lihat Ma’alim Ushul al-Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wa al-Jama’ah, hal. 78 karya Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani)
[3] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mencintai orang lain bukan karena Allah niscaya bahaya yang muncul dari teman-temannya jauh lebih besar daripada bahaya yang timbul dari musuh-musuhnya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 575)
[4] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia akan terbebas dari ujub. Di dalam sebuah hadits yang terkenal disebutkan, “Ada tiga perkara yang membinasakan; sikap pelit yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diperturutkan, dan sikap ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83 cet. al-Maktab al-Islami)
[5] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bersabar dalam menghadapi ketidakadilan penguasa adalah salah satu prinsip pokok yang dianut oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 280)
[6] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kedudukan dan kekuasaan tidak bisa mengubah orang yang bukan alim mujtahid menjadi seorang alim mujtahid. Seandainya hak berbicara tentang urusan ilmu dan agama diperoleh dengan sebab kekuasaan dan kedudukan niscaya khalifah dan raja adalah orang yang paling berhak berbicara tentang ilmu dan agama. Sehingga orang-orang merujuk kepadanya dalam mencari solusi bagi masalah ilmu maupun agama yang mereka hadapi. Apabila ternyata khalifah dan raja tidak mendakwakan hal itu ada pada dirinya, demikian juga rakyat tidak wajib menerima pendapatnya tanpa melihat pendapat yang lain, kecuali apabila selaras dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, orang-orang yang lebih rendah kedudukannya daripada raja lebih pantas untuk tidak melampaui kapasitas dirinya…” (lihat Qawa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama, hal. 28)
[7] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zuhud yang disyari’atkan itu adalah; dengan meninggalkan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat kelak di negeri akhirat dan kepercayaan yang kuat tertanam di dalam hati mengenai balasan dan keutamaan yang ada di sisi Allah… Adapun secara lahiriyah, segala hal yang digunakan oleh seorang hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, maka meninggalkan itu semua bukan termasuk zuhud yang disyari’atkan. Akan tetapi yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan sikap berlebihan dalam perkara-perkara yang menyibukkan sehingga melalaikan dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, berupa makanan, pakaian, harta, dan lain sebagainya…” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimyah, hal. 69-70)
[8] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seandainya seorang yang menyampaikan kebenaran memiliki niat untuk mendapatkan ketinggian di muka bumi (kedudukan) atau untuk menimbulkan kerusakan, maka kedudukan orang itu seperti halnya orang yang berperang karena fanatisme dan riya’. Namun, apabila dia berbicara karena Allah; ikhlas demi menjalankan [ajaran] agama untuk-Nya semata, maka dia termasuk golongan orang yang berjihad di jalan Allah, termasuk jajaran pewaris para nabi dan khalifah para rasul.” (lihat Dhawabith wa Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 109)
[9] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kata al-Haya’ [rasa malu] berasal dari kata al-Hayat [kehidupan] sebab hati yang hidup akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sejati. Di dalam dirinya terdapat rasa malu yang akan menghalanginya dari berbagai keburukan. Karena sesungguhnya kehidupan hati itu adalah sesuatu yang bisa mencegah dirinya dari melakukan berbagai hal yang jelek dan merusak hati.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 30)
[10] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Letak niat adalah di dalam hati dengan kesepakatan para ulama. Apabila seseorang telah berniat dengan hatinya dan tidak mengucapkan hal itu dengan lisannya, maka niat itu sudah dianggap sah/cukup berdasarkan kesepakatan mereka. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan para tabi’in; tidaklah dinukil dari seorang pun diantara mereka bahwa mereka melafalkan niat, tidak dalam hal sholat, thaharah, maupun puasa.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 36)
[11] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)
[12] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Yahudi berkata bahwa tidak boleh kekuasaan itu dipegang oleh selain keturunan Dawud. Demikian pula, kaum Rafidhah/Syi’ah. Mereka mengatakan bahwa tidak boleh imamah/kepemimpinan umat ini dipegang oleh selain keturunan Ali. Orang Yahudi berkata bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya al-Masih ad-Dajjal dan diturunkan pedang. Kaum Rafidhah pun mengatakan bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya Imam Mahdi dan terdengar seruan dari langit. Orang-orang Yahudi mengakhirkan sholat hingga bintang-bintang tampak. Maka begitu pula Rafidhah. Mereka mengakhirkan sholat Maghrib hingga bintang-bintang tampak. Padahal di dalam hadits ditegaskan, “Umatku akan senantiasa berada di atas fithrah selama mereka tidak mengakhirkan sholat Maghrib hingga tampaknya bintang-bintang.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, di dalam Zawa’id disebutkan bahwa sanadnya hasan). Orang-orang Yahudi menyelewengkan ayat-ayat Taurat. Begitu pula kaum Rafidhah menyelewengkan ayat-ayat al-Qur’an. Yahudi memandang tidak dituntunkan mengusap khuf. Begitu pula Rafidhah memandang hal itu tidak diajarkan. Orang Yahudi membenci Jibril, mereka mengatakan, “Jibril adalah musuh kami dari kalangan malaikat.” Begitu pula  Rafidhah, mereka mengatakan, “Jibril salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad.” (lihat Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 23-24)
[13] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjadikan seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dia jadikan satu-satunya pedoman; sehingga barangsiapa yang mencintainya maka itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah -menurutnya- dan barangsiapa yang menyelisihinya adalah ahli bid’ah dan pemecah belah -sebagaimana hal itu bisa ditemui pada para pengikuti imam ahlul kalam dalam urusan agama ini ataupun selainnya- maka sesungguhnya dia adalah seorang ahli bid’ah, penyebar kesesatan dan pemecah belah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 19)
[14] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah merupakan sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang batin maupun lahir. Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun kepemilikan dari kalangan manusia (budak) atau binatang piaraan, berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya itu semua adalah ibadah. Demikian juga kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan semisalnya [itu semua juga] termasuk ibadah kepada Allah.” (lihat al-‘Ubudiyah, hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh)
[15] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Simpul pokok ajaran agama ada dua: yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita beribadah kepada-Nya hanya dengan syari’at-Nya. Kita tidak beribadah kepada-Nya dengan bid’ah-bid’ah. Hal itu sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. al-Kahfi: 110).” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 87)
[16] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)
[17] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Allah Yang Maha Suci telah mengaruniakan dua hal yang agung kepada bani Adam. Kedua hal itu merupakan pokok kebahagiaan. Pertama; Setiap bayi yang terlahir berada di atas fitrah (tauhid). Setiap jiwa apabila dibiarkan begitu saja niscaya akan mengakui bahwasanya Allah adalah ilah/sesembahan baginya. Ia akan mencintai dan akan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Akan tetapi adanya bisikan setan dari kalangan jin dan manusia itulah yang menyebabkan kebatilan seolah menjadi sesuatu yang tampak indah dan menawan. Kedua; Allah ta’ala telah memberikan petunjuk kepada umat manusia dengan bimbingan yang bersifat umum. Sehingga di dalam diri mereka secara fitrah telah terpatri pengenalan -kepada kebenaran- dan sebab-sebab guna meraih ilmu. Setelah itu, Allah pun menurunkan kitab-kitab suci dan mengutus para rasul sebagai pembimbing bagi mereka.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 35)
[18] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf. Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah menetapkan kebenaran hal ini dengan dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakikat tauhid. Mereka beranggapan apabila telah menyaksikan dan mencapai tingkatan ini artinya mereka berhasil menggapai puncak tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah ta’ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya, dan meyakini Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, mengakui Allah semata yang berhak diibadahi, menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.” (lihat Fath al-Majid, hal. 15-16)
[19] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidaklah tercela orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbatkan diri, menyandarkan dan merasa mulia dengannya. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menerimanya sebagaimana telah disepakati oleh para ulama. Sebab madzhab salaf itu tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.” (Majmu’ Fatawa [4/149] dinukil dari al-Manhaj as-Salafi ‘inda asy-Syaikh al-Albani, hal. 16)
[20] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sudah seharusnya cara anda beramar ma’ruf adalah dengan cara yang ma’ruf, demikian pula cara anda dalam melarang kemungkaran adalah bukan berupa kemungkaran.” (lihat al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 24)

Rabu, 19 Desember 2012

move on



memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya apabila kita bertemu jodoh yang benar, masih ada rasa syukur kita pada ketentuanNYA.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita dapat menjadi penilai yang baik.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita sedar bahwa kita hanyalah makhluk yang sentiasa mengharapkan pertolongan ALLAH.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita dapat KASIH SAYANG YANG TERBAIK, KHAS UNTUK DIRI KITA.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita sedar bahawa ALLAH MAHA PEMURAH dan PENYAYANG kerana mengingatkan kita bahawa dia bukanlah pilihan yang hebat untuk kita dan kehidupan kita pada masa depan...

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yangg salah supaya kita dapat mengutip pengalaman yang tak semua orang berpeluang untuk mengalaminya.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita jadi MANUSIA YANG HEBAT JIWANYA.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita lebih faham bahawa CINTA YANG TERBAIK HANYA ADA BERSAMA ALLAH.

memang ALLAH sengaja menemukan kita dengan orang yang salah supaya kita LEBIH MENGENALI KEHIDUPAN YANG TAK SELAMANYA KEKAL...

Sahabat, PERCAYALAH sesungguhnya ALLAH malu untuk menolak permintaan hambaNYA yang menadah tangan meminta dengan penuh pengharapan HANYA kepadaNYA. Aamiin...

Senin, 17 Desember 2012

Makalah Resume Bahasa Indonesia



KETERAMPILAN BERBAHASA
(MEMBACA, BERBICARA, MENULIS)
DiajukanUntukMemenuhiTugasMandiri
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia
DosenPengampu: IndriyaMulyaningsih, M.Pd.





Oleh:
Agung Saputra
ADDIIN
BIMBINGAN KONSELING ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEIKH NURJATI
CIREBON
2012





















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa yang aktif, kreatif, produktif, dan tentunya komunikatif.terlepas dari itu semua, melalui bahasa kita dapat berbahasa, yang dituntut harus mahir dalam pelaksanaanya, sehingga kita menjadi terampil dalam berbahasa. Karena dalam proses interaksi dan komunikasi, diperlukan keterampilan berbahasa yang aktif, kreatif, produktif, dan komunikatif. Keterampilan berbahasa yang harus dikuasai tersebut diantaranya adalah membaca, menulis, dan berbicara.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian membaca?
2.      Apa kendala dalam membaca?
3.      Apa pengertian berbicara?
4.      Bagaimana Sistematika Penilaian Berbicara?
5.      Apa pengertian Menulis?
6.      Apa kegunaan Menulis?

C.    Tuujuan Penulisan
1.      Mengetahui Pengertian Membaca.
2.      Mengetahui Kendala-kendala dalam Membaca.
3.      Mengetahui Pengertian Berbicara.
4.      Mengetahui Sistematika Penilaian Berbicara.
5.      Mengetahui Pengertian Menulis.
6.      Mengetahui Kegunaan Menulis.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Membaca
Pada hakekatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf. Dikatakan kegiatan fisik, karena bagian-bagian tubuh khususnya mata, yang melakukannya. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian pikiran khususnya persepsi dan ingatan, terlibat didalamnya. Dari deifinisi ini kiranya dapat dilihat bahwa menemukan makna dari bacaan (tulisan) adalah tujuan utama membaca, dan bukan mengenali huruf-huruf.

2.      Kendala-kendala dalam Membaca
1.      Sulit Konsentrasi
Kesulitan dalam konsentrasi bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya kelelahan fisik dan mental, bosan atau banyak hal lain yang sedang dipikirkan.
Konsentrasi yang baik akan memastikan bahwa kecepatan baca berbanding lurus dengan pemahaman dan bukan sebaliknya. Untuk itu ketika mulai membaca, coba atasi factor-faktor yang menyebabkan anda  sulit berkonsentrasi. Cari tempat yang nyaman, dan tempat duduk yang enak dipakai.
2.      Rendahnya Motivasi
Faktanya motivasi memang sangat berperan penting dalam menggapai kehidupan yang lebih baik, terutama dalam membaca. Ketika anda sama sekali tidak mempunyai motivasi dalam membaca, maka anda akan cenderung membaca sekedarnya saja dan tidak terlalu berminat untuk membaca dengan pemahaman yang baik.

3.      Khawatir tidak Memahami Bahan Bacaan
Kendala dalam membaca yang satu ini terdengar sangat menggelikan, belum sampai pada kegiatan membaca, perasaan khawatir tidak memahami isi bacaan sudah dahulu menghantui. Kekhawatiran ini akan mengganggu kecepatan baca maupun pemahaman Anda. Solusinya, jika anda seorang pelajar atau mahasiswa, secara rutin bacalah buku teks yang diwajibkan jauh-jauh hari sebelum ujian.

3.      Pengertian Berbicara
Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

4.      Sisitematika Penilaian dalam Berbicara
Aspek-aspek penilaian yang dinilai dalam kegiatan berbicara, sebagaimana disarankan oleh para ahli adalah sebagai berikut:
1.      Aspek kebahasaan
·         Pengucapan
·         Penempatan tekanan
·         Latihan percakapan
·         Bercerita
·         Diskusi
·         Wawancara
·         Darama
·         Berpidato


5.      Pengertian Menulis
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga   orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.

6.      Kegunaan Menulis
Menulis adalah alat yang sangat ampuh dalam belajart yang dengan sendirinya memainkan peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dilihat dari sudut pandang tersebut, Fachruddin (1994:3) mengemukakan kegunaan menulis secara rinci sebagai berikut.
  1. Menulis monolog menemukan kembali apa yang pernah diketahui. Menulis mengenai suatu topik merangsang pemikiran pembaca mengenai topik tersebut dan membantu kita membangkitkan pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam bawah sadar.
  2. Menulis menghasilkan ide-ide baru. Tindakan menulis merangsang pikiran untuk mencari pertalian, dan menarik persamaan (analogi) yang tidak akan pernah terjadi seandainya tidak dimulai menulis.
  3. Menulis membantu mengorganisasikan pikiran dan menempatkannya dalam suatu bentuk yang berdiri sendiri, hanya karena menulis.
  4. Menulis menjadikan pikiran sesorang siap untuk dilihat dan dievaluasi; dapat dibuat jarak dengan ide sendiri dan dilihatnya lebih objektif pada waktu ditulis.
  5. Menulis membatu diserap dan dikuasai informasi baru, akan dipahami banyak lebih baik dengan disampaikan lebih lama jika ditulis hal itu.
  6. Menulis membantu menyelesaikan masalah dengan memperjelas unsur-unsurnya dan menempatkannya dalam suatu konteks visual sehingga dapat diuji.
  7. Menulis tentang suatu topik menjadikan seorang pelajar aktif.
BAB III
TANYA JAWAB



1.      P :  Apa saja motivasi dalam membaca?
J : Motivasi ada dua macam internal dan eksternal, untuk yang internal kita manfa’atkan kecerdasan yang kita miliki, sedangkan motivasi eksternal diantaranya terobsesi untik mwujudkan  harapan dan cita-cita.
2.      P :  Apakah semua penyimak harus memiliki pengetahuan yang luas?
J :  Tidak, tapi berpengetahuan luas sangat membantu dalam kegiatan menyimak.
3.      P : Bagaimana meningkatkan motivasi dalam menyelesaikan skripsi pada khususnya?
J :  Membangun motivasi itu dibangun dari diri sendiri dan harus dipaksa untuk menjadi orang yang lebih baik.



BAB IV
KESIMPULAN

1.      Pada hakekatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf.
2.      Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
3.      Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

Cari